Album Foto

Ibuku seorang yang sangat apik mengoleksi foto. Ribuan moment dari pernikahannya sampai kelahiran kami anak anaknya semua diabadikan dengan kamera jadul fuji yang harus di isi dengan roll film isi 24 atau 36. Setelah film habis, digulung dikeluarkan dari kamera, dicetak, segera kesibukan menata foto-foto tersebut dalam sebuah album menyedot perhatiannya. Aku diajarkan untuk menata foto-foto tersebut dalam lembaran album foto, membuka lapisan plastik yg menempel pada kertas tebal, membuat kolase, menata sesuai tema, menambahkan bunga kering atau daun kering sebagai pemanis, menambah sticker sampai akhirnya menutup plastik pelapis lembaran album foto tersebut. Tara! 1 moment diabadikan dalam serangkaian foto yang nantinya akan menjadi visualisasi saat bercerita pada orang lain. Konsep yang sangat baik.

Sama seperti hari ini, rasanya sebuah halaman album foto kosong dibentangkan dihadapanku, apa yang mau aku ceritakan? Masih kosong. Jadi aku membalik kebelakang, semoga halamannya terisi. Yeah, terisi, terisi wishlist yang belum diwujudkan menjadi realita. Dan sepertinya semesta mendorongku untuk membawa wishlist dihalaman belakang menjadi visualisasi di halaman saat ini. Ada kerling kegirangan dihati yang segera disambut dengan penyangkalan, apakah bisa? Bulan ke 5 tahun 2015, hampir separuh tahun, rasanya terlalu siang memulai sesuatu, tapi kamus Barron's 501 Italian Verbs yg berdiam tak tersentuh di rak bukuku seperti siap mencibir. Apa yg pernah didambakan dgn tekad ketika membawa kamus tersebut ke kasir berjanji menabung untuk mendaftar les bahasa sampai detik ini masih sekedar rencana. Itu hanya 1 contoh, masih ada banyak lagi.
Semesta, bila ini darimu mari lakukan bersama.

Komentar

Postingan Populer