Tiang Garam
Bila kala itu aku meminta dengan lebih keras, akankah di
kabulkan?
Sekeping sesal tergeletak, menggenang dan melebar seperti
darah yang menodai tanah.
Bila kala itu aku hanya memandang padanya, akankah saat ini
aku tersenyum?
Tanpa sadar, menengok kebelakang menjadi hal yang begitu
penting, seperti istri Lot.
Seolah meyakini ada mesin waktu dibelakang, memungkinkan
kesempatan kedua.
Ternyata kekecewaan tidak berubah dari jaman Lot hingga saat
ini. Hanya saja tidak ada tiang garam
Tinggal tengadah ke langit, memandang susunannya dengan
keterbatasan, mencoba memahami semesta dengan hati penuh tanya.
Kecewa? Ya. Tidak.
Rasa yang harus dirasakan dan ditelan sendiri.
Obat pahit, tapi berkhasiat. Akankah ini serupa?
Ini rasa galau. Ketika ego dinaikkan ke langit. Lalu bijaksana
menggantikannya dengan penyerahan kehendak diri. Tetapi besoknya ego membuka
mata dan seolah tersadar, ini patut diperjuangkan. Lalu pengertian berseteru dengannya.
Hati begitu penuh. Begitu kosong.
Bagaimanakah seharusnya merasa?
Beritahu aku bagaimana seharusnya bersikap.
Komentar
Posting Komentar